Minggu, 03 Agustus 2008

Potensi batubara



Potensi batubara

gambar diperoleh dari website tekmira

Apakah Batubara

Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang memiliki riwayat pemanfaatan yang sangat panjang. Ada laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk mencetak uang logam sekitar tahun 1000 SM. Aristoteles, yang menyebutkan adanya arang seperti batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan bangunan bangsa Romawi di Inggris juga menunjukkan bahwa batubara telah digunakan oleh bangsa Romawi pada tahun 400 SM. Penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt, yang dipatenkan pada tahun 1769, sangat berperan dalam pertumbuhan penggunaan batu bara. Tapi sejak tahun 1960 minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber energi primer menggantikan batubara.
Pembentukan Batubara
Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan (coalification).Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan (sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon (Carboniferous Period) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah.Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous). Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus (bituminous) atau antrasit (anthracite). Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara
Karena tingkat pembatubaraan secara umum dapat diasosiasikan dengan mutu atau kualitas batubara, maka batubara dengan tingkat pembatubaraan rendah --disebut pula batubara bermutu rendah-- seperti lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga kandungan energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar
How is Coal Formed?
Coal is formed when peat is altered physically and chemically. This process is called "coalification." During coalification, peat undergoes several changes as a result of bacterial decay, compaction, heat, and time. Peat deposits are quite varied and contain everything from pristine plant parts (roots, bark, spores, etc.) to decayed plants, decay products, and even charcoal if the peat caught fire during accumulation. Peat deposits typically form in a waterlogged environment where plant debris accumulated; peat bogs and peat swamps are examples. In such an environment, the accumulation of plant debris exceeds the rate of bacterial decay of the debris. The bacterial decay rate is reduced because the available oxygen in organic-rich water is completely used up by the decaying process. Anaerobic (without oxygen) decay is much slower than aerobic decay.
For the peat to become coal, it must be buried by sediment. Burial compacts the peat and, consequently, much water is squeezed out during the first stages of burial. Continued burial and the addition of heat and time cause the complex hydrocarbon compounds in the peat to break down and alter in a variety of ways. The gaseous alteration products (methane is one) are typically expelled from the deposit, and the deposit becomes more and more carbon-rich as the other elements disperse. The stages of this trend proceed from plant debris through peat, lignite, sub-bituminous coal, bituminous coal, anthracite coal, to graphite (a pure carbon mineral).
Because of the amount of squeezing and water loss that accompanies the compaction of peat after burial, it is estimated that it took 10 vertical feet of original peat material to produce 1 vertical foot of bituminous coal in eastern and western Kentucky. The peat to coal ratio is variable and dependent on the original type of peat the coal came from and the rank of the coal